Medan-metrodeli
Kisah hidup dan rekam jejak pengabdian birokrat senior Sumatera Utara Dr RE Nainggolan, kembali mengemuka lewat bedah buku “Biografi RE Nainggolan Keyakinan, Perjuangan dan Pengabdian” karya Toga Nainggolan di Kampus Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Medan, Kamis 20 November 2025.
Acara yang dibuka Pj Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara Sulaiman Harahap, ini menghadirkan langsung RE Nainggolan serta Wakil Rektor III UNPRI, Refi Ikhtiari.
Diskusi menghadirkan panelis lintas disiplin jurnalis senior Besihar Lubis, Dekan FISIP UMSU Dr Arifin Saleh Siregar, Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNPRI Dr Fajar Rezeki Ananda Lubis, dengan moderator Dr Murbanto Sinaga, dosen Fakultas Ekonomi USU.
Para panelis menyoroti struktur buku yang terbagi ke dalam lima babak kehidupan RE Nainggolan—mulai dari masa kecil yang berpindah-pindah, perjalanan pendidikan, titik balik yang membawanya masuk APDN, hingga menapaki karier birokrasi hampir sepenuhnya di Tapanuli Utara. Mulai dari pegawai kantor Camat Pahae Jae hingga mencapai puncak sebagai Bupati, karier RE digambarkan sebagai rangkaian pengabdian yang tumbuh dari kesungguhan dan konsistensi.
Satu-satunya masa bertugas di luar Tapanuli Utara adalah ketika ia dipercaya sebagai Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Dairi. Kariernya kemudian berlanjut di Pemprov Sumut hingga menduduki posisi strategis sebagai Sekretaris Daerah.
Panelis juga menyoroti keputusan penting RE yang memilih tidak maju pada periode kedua sebagai Bupati Tapanuli Utara, meski peluang untuk terpilih kembali sangat besar. “Itu keputusan yang jarang muncul dalam kultur politik kita. Ada nilai integritas yang ingin ditegakkannya,” ujar Dr Arifin.
Tidak seperti kebanyakan biografi tokoh, buku ini tidak menghadirkan testimoni, melainkan empat sambutan dari tokoh yang mewakili dimensi berbeda dalam perjalanan RE Nainggolan Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, Gamawan Fauzi, Gubernur Sumatera Utara, dan Pdt R Bambang Jonan.
Para panelis menilai keempat figur ini menggambarkan simpul-simpul penting dalam perjalanan RE.
Luhut Binsar Pandjaitan, tokoh yang memiliki peran signifikan dalam karier RE, dipandang memberi dampak besar bagi Sumut dan karier pemerintahan RE.
Gamawan Fauzi, figur administrasi publik yang dikenal modern dan berintegritas, menjadi simbol tata kelola pemerintahan yang menjadi rujukan RE.
Gubernur Sumatera Utara menjadi representasi institusi yang memberi penghormatan atas kontribusinya lintas generasi dalam pemerintahan daerah.
Pdt R. Bambang Jonan melengkapi gambaran dengan dimensi moral dan spiritual, menunjukkan bahwa perjalanan hidup RE tidak hanya bertumpu pada birokrasi, tetapi juga nilai-nilai pelayanan.
“Dari empat tokoh itu kita melihat karier RE bukan sekadar garis birokrasi, tetapi perpaduan antara integritas, relasi, spiritualitas, dan tradisi pengabdian,” papar Bersihar Lubis.
Bagian lain yang mencuri perhatian panelis adalah pengakuan RE mengenai “realitas politik” di Indonesia.
Ia menyinggung bagaimana sulitnya mendapatkan “permainan yang fair” dalam dinamika politik tanah air.
Pengakuan ini dinilai sebagai bentuk kejujuran seorang birokrat yang telah melihat dari dekat berbagai wajah politik lokal maupun provinsi.
Dari Dinas Pendapatan, Sekretariat Kabupaten, Bupati, Kepala Badan Informasi dan Komunikasi, perencanaan hingga Sekdaprov, RE digambarkan tak pernah berhenti belajar dan bekerja dengan totalitas.
“Buku ini mengingatkan dalam sistem yang belum sepenuhnya mapan, kualitas seorang pemimpin sangat menentukan,” kata Dr Fajar.
Pj Sekdaprovsu Sulaiman Harahap dalam sambutannya menyebut buku ini bukan sekadar catatan perjalanan seorang birokrat, tetapi cermin nilai pengabdian yang relevan bagi generasi penerus.
Menurut Sulaiman, ada tiga nilai strategis yang patut dipetik dari perjalanan RE Nainggolan, antara lain, Nilai Keyakinan (Faith and Conviction) artinya keyakinan kepada Tuhan dan prinsip moral adalah fondasi kekuatan seorang pemimpin agar tidak goyah oleh tekanan dan godaan.
Kemudian Nilai Perjuangan (Struggle), memperlihatkan bahwa tugas birokrasi bersifat sosial dan kemanusiaan, menuntut kepedulian, keberanian mengambil risiko, serta kemampuan mendahulukan kepentingan masyarakat.
Selanjutnya Nilai Pengabdian (Service) yang menegaskan bahwa jabatan bukanlah kemewahan, tetapi amanah. “Itulah yang menjadi esensi utama dari pelayanan publik yang bersih dan berorientasi pada hasil,” katanya.
Wakil Rektor III UNPRI Refi Ikhtiari menambahkan bahwa literatur seperti ini penting untuk mahasiswa yang belajar kepemimpinan publik.(gibran-editor01













