Langkat-metrodeli
Kabupaten Langkat memiliki warisan arsitektur Melayu yang tidak hanya menyimpan nilai sejarah dan budaya, tetapi juga memiliki potensi sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan. Salah satunya Rumah Panggung yaitu rumah tradisional etnis Melayu yang berkembang di empat kecamatan wilayah Langkat.
Struktur bangunan yang ditinggikan, ruang kolong, serta berbagai elemen arsitekturnya menjadi bentuk kearifan lokal dalam merespons kondisi lingkungan, termasuk ancaman banjir.
Di tengah ancaman banjir yang berulang di Kabupaten Langkat, keberadaan prinsip arsitektur tradisional tersebut dinilai penting untuk dikaji kembali. Banjir akibat luapan Sungai Batang Serangan pada Agustus 2023, misalnya, merendam 1.116 rumah, sementara banjir Sungai Lepan pada Oktober 2023 turut menggenangi kawasan permukiman.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan hunian yang mampu beradaptasi dengan karakter lingkungan dan risiko bencana.
Upaya mengkaji kembali potensi arsitektur tradisional tersebut menjadi latar belakang dilaksanakannya penelitian Tim mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed) melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) 2026.
Penelitian berjudul “Rumah Cindai: Dekonstruksi Arsitektur Warisan Bersejarah Hunian Berkelanjutan Etnis Melayu sebagai Ketahanan Budaya untuk Penyelamatan Bencana Banjir di Kabupaten Langkat” ini berupaya mereaktualisasi prinsip Rumah Panggung menjadi konsep hunian neo-vernakular yang adaptif terhadap banjir.
Tim penelitian diketuai Fajar Ridwan Syah Putra Gultom dari Program Studi Pendidikan Sejarah dengan anggota Dona Febriana Pulungan dan Valentino Manalu dari Pendidikan Sejarah, Viony Nazwa Hasyifa Hasibuandari Program Studi Arsitektur, serta Ahmad Fauzi Sinurayadari Pendidikan Geografi. Penelitian ini didampingi Dr Rosramadhana, SPd, MSi dari Program Studi Pendidikan Antropologi Unimed.
Menurut tim peneliti, fokus penelitian mencakup tiga aspek utama yaitu menganalisis keberadaan Rumah Cindai sebagai mekanisme resiliensi terhadap banjir, mendekonstruksi prinsip arsitektur Rumah Cindai menjadi model hunian berkelanjutan yang adaptif terhadap banjir, serta mengevaluasi dampaknya sebagai strategi penyelamatan masyarakat dari bencana banjir di Kabupaten Langkat.
Informan penelitian ini meliputi tokoh adat, pemilik atau ahli waris Rumah Panggung, masyarakat terdampak banjir, petugas BPBD Kabupaten Langkat, serta pihak yang memiliki keahlian dalam bidang budaya Melayu, seperti Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia.
Penelitian ini diharapkan tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian Rumah Panggung sebagai warisan budaya Melayu Langkat, tetapi juga menunjukkan arsitektur tradisional dapat menjadi sumber pengetahuan dan strategi dalam menghadapi persoalan lingkungan masa kini.
Dengan menggabungkan sejarah, arsitektur, geografi, dan kearifan lokal, Rumah Panggung Tradisional diharapkan dapat direaktualisasi menjadi model hunian yang tetap mempertahankan identitas budaya sekaligus lebih adaptif terhadap ancaman banjir.(alhafiz-editor01)

















