DAHULU, lagu rock seperti Power Metal, Edane, Jamrud, Boomerang dan lainnya menjadi memori indah saat nongkrong, dinyanyikan bareng sambil bertepuk ria di malam hari. sembari menyeruput kopi, kacang serta ngobrol ngalor ngidul tentang otomotif, jalan jalan hingga haha..apalagi kalau bukan lawan jenis.
namun perhatian Mimin saat ini bukan tertuju pada bandnya. tapi pada tulisan horizontal hampir sepanjang lebar kasetnya, LOG ZHELEBOUR. wow, what a legend. dan ini adalah ceritanya.
Bayangkan sebuah sore di Surabaya tahun 70-an. Udara panas, bau aspal yang terpanggang, dan suara bising dari pasar yang tak jauh dari sebuah rumah sederhana.
Di sana, ada seorang pemuda bernama Ong Oen Log. Tangannya tidak memegang gitar, melainkan rantang-rantang katering milik ibunya.
Setiap hari tugasnya sederhana tapi melelahkan, mengantar makanan ke rumah-rumah pelanggan.
Siapa yang sangka, dari bunyi gemerincing rantang itulah, insting bisnis seorang legenda lahir.
Di balik sosoknya yang dianggap selebor, sembrono, apa adanya, dan cenderung nekad. Log memendam mimpi yang jauh lebih besar dari sekadar bisnis makanan.
Dia adalah seorang pemimpi yang jatuh cinta pada musik, tapi dia bukan musisi. Dia adalah “si telinga emas” yang tahu mana suara yang bakal jadi emas, dan mana yang cuma jadi debu.
Pindah ke era 80-an dan 90-an. Jika kamu tumbuh besar di zaman itu, kamu pasti ingat betapa sakralnya sebuah poster konser.
Poster dengan logo “Log Zhelebour” bukan sekadar pengumuman acara, itu adalah jaminan kualitas.
Saat itu, menonton konser bukan soal gengsi di media sosial, tapi soal “ibadah” telinga. Kita rela menabung uang jajan berbulan-bulan, menyisihkan receh demi receh, hanya untuk berdiri di tengah lautan manusia di Stadion Tambaksari atau Senayan.
Log Zhelebour adalah orang yang membuat mimpi-mimpi anak band di gang sempit menjadi nyata.
Dia tidak hanya memberi panggung, dia membangun ekosistem. Ingat bagaimana Jamrud dulu hanya band bernama Jam Rock yang mungkin hanya dikenal di Cimahi atau Bandung?
atau siapa yang tidak kenal dengan Band Boomerang, Power Metal? Log-lah yang “mengubah nama mereka dan memaksa seluruh Indonesia menyanyikan lagu-lagu mereka.
Dia adalah tangan dingin yang membuat musik rock yang awalnya dianggap musik berisik dan urakan lalu masuk ke ruang tamu rumah kita melalui kaset-kaset Logiss Records.
Uniknya, Kata “Zhelebour” bukan diambil dari bahasa asing, melainkan modifikasi keren dari kata bahasa Jawa “Selebor” (sembrono/seenaknya). Teman-temannya di SMA St. Louis Surabaya memanggilnya begitu karena sifatnya yang ndablek. bahkan KTP nya aja diganti jadi Log Zhelebour.
Seolah dia ingin bilang, “Kalau konser ini gagal, kalau kaset ini jelek, cari saya. Nama saya taruhannya.” Mentalitas katering rantangan terbawa hingga ke panggung rock: beri mereka sampel terbaik, bikin mereka ketagihan, dan jangan pernah takut rugi untuk kualitas.
Membaca kisah Log adalah membaca sejarah tentang keberanian. Bayangkan situasi saat itu, mendatangkan Sepultura atau Mr. Big bukan hal mudah. Tidak ada email, tidak ada WhatsApp. Modalnya cuman dua katanya, NYALI DAN ROKOK.
Dia sering dianggap gila karena berani mengambil risiko finansial yang besar.
Tapi bagi Log, rock bukan cuma soal uang, rock adalah tentang harga diri dan kejujuran dalam berkarya.
Kini, setiap kali kita memutar kaset lama di tape, atau melihat logo Logiss Records yang ikonik itu, kita tidak hanya mendengar musik.
Kita mendengar keringat,ambisi,dan visi seorang pemuda Surabaya yang dulu mengantar katering.
Dia membuktikan bahwa untuk menjadi besar di dunia musik, kamu tidak harus bisa memetik gitar. Kamu hanya perlu memiliki nyali sekeras karang dan telinga yang jujur.
Log Zhelebour adalah bukti bahwa dia adalah raja tanpa mahkota yang membuat masa muda kita penuh dengan raungan gitar dan distorsi yang menghidupkan jiwa.
Hingga hari ini, setiap kali distorsi nada itu berbunyi. setiap itu pula kita merindukan saat rock Indonesia bisa kembali bangkit lagi. SEMOGA.

















