• Home
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalis
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • games and Gadget
  • Kuliner kita
  • medsos
  • metro Internasional
  • metro Medan
  • metroselebritis
  • metro Sumut
  • Pariwisata
Rabu, Agustus 5, 2026
  • Login
MetroDeli Daily
  • Home
  • Breaking News
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Lifestyle
  • Entertainmen
  • MitraKita
  • Pojok Online
  • Religi
Tidak ditemukan.
Tampilkan seluruhnya.
  • Home
  • Breaking News
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Lifestyle
  • Entertainmen
  • MitraKita
  • Pojok Online
  • Religi
Tidak ditemukan.
Tampilkan seluruhnya.
MetroDeli Daily
Tidak ditemukan.
Tampilkan seluruhnya.
  • Home
  • Breaking News
  • Ekonomi
  • Entertainmen
  • games and Gadget
  • Hukum dan Kriminal
  • Kuliner kita
  • Lifestyle
  • medsos
  • metro Internasional
  • metro Medan
  • metro Sumut
  • metroselebritis
  • MitraKita
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pariwisata
  • Peristiwa
  • Pojok Online
  • Politik
  • Religi
  • Indeks
  • Kode Etik Jurnalis
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Tantangan, Relevansi dan Masadepan Antropologi

Oleh: Edy Suhartono

editor
5 Agustus 2026
/ Pojok Online
0

metrodeli/istimewa Edy Suhartono

0
SHARES
353
VIEWS

Antropologi, adalah ilmu yang mempelajari “manusia” (dari kata antropos dan logos) , Berkembang mulai dari paradigma evolusionis abad ke-19, hingga revolusi metode etnografi dan kritik reflektif pascakolonial. Antropologi terus berbenah dan menemukan relevansinya.

Saat ini manusia menghadapi percepatan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya: revolusi digital, krisis ekologis, migrasi global, dan transformasi bioteknologi.

BacaJuga

Log Zhelebour!!, Dibalik Terciptanya Para Rocker Hebat

Pembangunan Bukan Sekadar Angka, Oleh Inggrita Gusti Sari Nasution

LAPK: Pemadaman Berulang, Komitmen PLN Dipertanyakan

Di tengah pusaran perubahan ini, posisi Antropologi justru menjadi semakin vital. Tulisan ini mencoba menjabarkan tantangan, peluang, serta masa depan antropologi sebagai sebuah disiplin yang tidak hanya merekam, tetapi juga terlibat kritis dalam membentuk era modern.

Tantangan Antropologi
Masa depan Antropologi berjalan seiring dengan upaya dekolonisasi yang radikal. Ini bukan hanya soal melibatkan lebih banyak Antropolog dari wilayah Global Selatan (Global South), tetapi mendekonstruksi epistemologi Barat yang masih mendominasi, membangun kemitraan penelitian yang setara, dan mengakui berbagai bentuk pengetahuan lokal sebagai teori yang sahih.

Dekolonsasi sebagai sebuah upaya untuk menghilangkan jejak dan warisan serta pengaruh kolonial yang ada sehingga tetap menampilkan wajah asli kebudayaannya dan mencegah klaim sepihak dari pihak penjajah.

Tradisi penelitian di lokasi yang ‘jauh’ dan ‘asing’ kini telah bergeser. Penelitian di komunitas urban, institusi sains, dunia virtual, atau bahkan di dalam birokrasi negara sendiri menjadi semakin umum. Hal ini menuntut adaptasi metode dan etika, sekaligus menawarkan insight unik tentang kompleksitas masyarakat kita sendiri.

Anthoni Jackson (1987) menegaskan bahwa “anthropology at home”. sebagai penelitian antropologi yang dilakukan dalam konteks sosial-budaya yang sama dengan tempat tinggal peneliti —atau dengan kata lain, penelitian di “rumah” sendiri.

Hal ini sekaligus kritik terhadap kecenderungan antropolog untuk selalu mencari masyarakat “asing” dan “eksotis” di negeri yang jauh.

Keberlanjutan dan Krisis Ekologi
Antropologi memiliki warisan panjang dalam mempelajari relasi manusia-alam.

Masa depan disiplin ini akan sangat dipengaruhi oleh kemampuannya untuk menyumbangkan perspektif tentang keadilan iklim, ontologi multispesies (di mana manusia, hewan, tumbuhan, dan ‘makhluk’ lain setara), dan solusi berbasis komunitas terhadap kerusakan lingkungan.

Pada aspek digital, di mana ruang digital bukan sekadar “alat” atau “lapangan” tambahan, tetapi telah menjadi ekosistem sosial-budaya yang kompleks. Antropologi digital mengeksplorasi praktik kekinian seperti ekonomi kreator, politik algoritma, komunitas virtual, cryptocurrency, dan identitas online. Metode etnografi digital (netnografi) menjadi keahlian baru yang penting.

Demikan juga dalam perkembangan genomic dan teknologi reproduksi membawa pertanyaan mendasar tentang tubuh, kehidupan, dan kemanusiaan. Antropolog medis masa depan akan meneliti dampak sosial dari teknologi ini, konsep kesehatan global, serta persimpangan antara pengetahuan biomedis dan penyembuhan tradisional.
Studi tentang pasar, uang, dan nilai juga menjadi perhatian antropologi.

Di era fintech, blockchain, dan ekonomi platform yang tidak stabil, antropolog dapat mengungkap logika kultural di balik sistem ekonomi yang tampak teknis dan rasional.

Dalam kaitannya dengan makna, ada pergeseran dari fokus pada hakikat makna dan simbol ke perhatian pada pengalaman indrawi dan objek material. Bagaimana suara, bau, sentuhan, dan benda-benda membentuk ingatan, konflik, dan identitas, menjadi area penelitian yang kaya.

Metodologi dan Etika
Etnografi klasik di satu lokasi tunggal seringkali tidak memadai untuk memahami fenomena seperti rantai pasok global atau diaspora. Etnografi multi-lokal yang melacak jaringan, orang, dan barang melintasi batas menjadi semakin penting, dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan peneliti dari berbagai disiplin dan latar.

Antropologi juga mulai berdialog dengan analisis big data. Kombinasi antara kedalaman wawasan etnografi (thick data description) dengan pola luas dari big data dapat menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif. Tantangannya adalah menjaga nuansa kultural dan tidak terjebak dalam positivisme.

Isu privasi data (terutama data digital), keamanan informan di negara otoriter, hak kekayaan intelektual kolektif, dan akuntabilitas penelitian menjadi lebih rumit. Komite etika dan protokol harus terus diperbarui untuk menjawab dinamika ini.

Impelementasi dan Relevansi
Masa depan antropologi juga terletak pada kemampuan menerjemahkan pengetahuan akademis untuk publik yang lebih luas dan untuk perubahan sosial. Beberapa bidang pekerjaan dan aktifitas yang bisa diisi oleh lulusan dari Antropologi di ruang publik cukup menjanjikan.

Bekerja di luar akademi, sebagai konsultan dan aktifis NGO, badan PBB, perusahaan teknologi, atau lembaga pemerintah, untuk merancang kebijakan dan program yang peka budaya.

Bidang terapan ini tentunya tidak hanya menantang dan penuh tantangan tapi juga menguji dan membuktikan pada publik bahwa Antropologi memang diperlukan dan mampu bersifat professional
Kemampuan menulis merupakan ciri kas yang dipelajari di Antropologi melalui penulisan etnografi.

Karena itu menulis untuk media populer, membuat narasi konsep tentang podcast, naskah untuk film dokumenter, hingga pameran museum yang menyampaikan perspektif antropologis kepada khalayak umum, menunjukkan Antropologi cukup adaptif dengan pilihan bidang pekerjaan yang ada.

Antropolog semakin mengambil peran sebagai pembela (advocacy) dan berpihak serta berdiri bersama komunitas yang ditelitinya, misalnya dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, pengungsi, atau kelompok rentan lainnya.

Oleh karenanya Antropologi sebagai ilmu dan para Antropolog yang menjadi Aktivis (antropolog – aktivis) pada akhirnya tidak bisa bebas nilai (value free) dalam menerapkan ilmu Antropologi melainkan harus berpihak pada dimensi kemanusiaan itu sendiri.

Posisi dan peran antropolog sebagai akademisi dan Antropolog sebagai aktivis menjadi sebuah tema yang menarik untuk dicermati di tengah semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi dalam rangka mengatasi berbagai problem yang ada saat ini baik terkait dengan masalah demokrasi, hak azasi manusia, ketidakkeadilan, kerusakan lingkungan hidup, ekploitasi dan akses terhadap sumber daya alam serta ancaman terhadap keberlanjutan eksosistem dan peradaban manusia.

Membangun Kerangka Baru
Aliran pemikiran secara radikal mempelajari berbagai cara dari realitas dunia yang “ada” (ontology) dalam budaya yang berbeda. Bagi masyarakat Amazon, misalnya, binatang buas dan roh hutan adalah “person” yang nyata. Pergeseran ini menantang dikotomi Barat modern antara alam (fakta) dan budaya (makna), membuka ruang untuk memahami pluralitas realitas.

Antropoologi, tidak hanya mempelajari masa lalu dan kini, tetapi juga mempelajari bagaimana berbagai komunitas, aktivis dan ilmuwan iklim, perencana kota, hingga komunitas adat yang terancam, membayangkan, meramalkan, merencanakan, dan membangun (future-making) masa depan mereka. Ini melibatkan studi tentang ramalan, utopia, distopia, dan praktik-praktik ketahanan (resiliensi).

Antropologi tidak bisa bekerja sendiri, perlu kolaborasi yang setara dengan ilmu lain. Kolaborasi dengan Neuroanthropology (dengan ilmu saraf) mempelajari bagaimana budaya membentuk otak dan sebaliknya.

Kolaborasi dengan ilmu komputer untuk algoritma yang lebih adil. Kerjasama engan ilmu iklim (climatologi) untuk model adaptasi yang kontekstual, dengan ilmu seni untuk bentuk representasi baru.

Tidak hanya sekedar mengaplikasikan teori Barat pada kasus Indonesia, tetapi menghidupkan kembali dan memvalidasi epistemologi Nusantara (seperti kearifan lokal, konsep gotong royong, dll.) sebagai kerangka analitis yang kontributif bagi antropologi global.

Proses dekolonisasi dengan sendirinya akan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal yang dimiliki yang nota bene sudah mengakar dan merupakan legacy dari tradisi masa lampau.

Realitas dekolonisasi ini juga terlihat dalam tulisan Michael Prager (2005) yang menggambarkan proses transisi dari antropologi kolonial Belanda ke antropologi nasional Indonesia.

Mendokumentasikan dengan kritis bahasa, ritual, dan sistem pengetahuan komunitas adat yang terancam oleh homogenisasi pembangunan ekstraktif (pertambangan, perkebunan skala besar).

Antropologi Indonesia harus menjadi pembela yang kuat untuk hak-hak kultural dan territorial masyarakat adat.

Kedaulatan budaya (cultural sovereignty) harus ditegakkan di atas hegemoni budaya barat yang semakin kompetittif dan kontestatif.

Roy Ellen (2018) menuliskan tentang masyarakat Nualu, di Pulau Seram yang memiliki ketahanan budaya (cultural resilience) mencakup aspek ingatan (ritual reproduction), keberagaman (identitas etnis), dan kedaulatan (perlawanan terhadap homogenisasi).

Dalam masyarakat yang terkotak oleh politik identitas eksklusif (suku, agama, kelas), antropologi dapat berperan sebagai “penerjemah budaya”, menjelaskan logika di balik praktik kelompok lain untuk mengurangi prasangka dan membangun pemahaman bersama.

Antropologi harus aktif dalam pendidikan publik untuk membangun literasi budaya. Keberagaman tidak lagi dilihat sebagai potensi ancaman melainkan sebuah potensi modal sosial (social capital) yang dapat digunakan untuk pembangunan.

Memusatkan perhatian pada fenomena urban yang khas Indonesia: transformasi kampung kota, budaya street food, komunitas gamer dan content creator, serta bagaimana agama dipraktikkan di ruang digital. Ini adalah “lapangan” masa depan yang sangat dinamis.

Dinamika pembangunanan di kawasan urban (perkotaan) sepertinya tidak lengkap jika tidak diikuti oleh perkembangan dunia digital.

Karena salah satu tampilan fisik perkembangan kota pada masa depan dicirikan kuat oleh proses serba digital, di sinilah peran antropologi menjadi penting,
tantangan yang dihadapi Antropologi di era modern sesungguhnya adalah cermin dari tantangan kemanusiaan itu sendiri: bagaimana memahami diri kita dalam jejaring kompleks relasi sosial, teknologi yang mengubah hidup, kekuasaan yang tidak merata, dan planet yang rentan. Justru dalam kompleksitas inilah relevansi antropologi tampil menguat di garda depan; dunia yang semakin terhubung membutuhkan bukan sekadar toleransi, tetapi pemahaman mendalam tentang perbedaan.

Masa depan antropologi tidak terletak pada nostalgia terhadap “lapangan” masa lalu yang murni, tetapi pada keberaniannya untuk terlibat penuh dengan dunia masa kini dan masa yang akan datang dengan ketajaman teoritis, metodologi yang adaptif, etika yang kuat, dan komitmen pada keadilan. Masa depan antropologi adalah masa depan yang engaged (terlibat), reflective (reflektif), dan indispensable (diperlukan) bagi upaya kolektif kita untuk menciptakan dunia yang lebih bisa dihuni dan manusiawi.

Pada akhirnya, antropologi mengajak kita untuk terus bertanya, dengan rendah hati dan penuh rasa ingin tahu: Apa artinya menjadi manusia, bersama yang lain (manusia dan non-manusia), di planet yang satu, pada masa yang penuh gejolak ini? Pertanyaan inilah yang akan terus membimbing dan memberi ruh pada disiplin ini di masa masa mendatang; sekaligus mempertegas penjelasan dari pertanyaan mengapa dunia masih memerlukan Ilmu Antropologi dan para Antropolog sebagaimana yang diungkap oleh Dan Podjed dan Carla Querron Montero (2025) dalam bukunya yang berjudul “Why The World Needs Anthropologist”. Demikian!**Penulis adalah antropolog Sumut/mantan KPU Medan.

Tags: Relevansi MasadepanTantangan AntropologiTulisan Opini
ShareTweetSend
Sebelumnya

PD AIJ Sumut Targetkan PAD, Akan Genjot Bisnis dan Optimalisasi Aset

Selanjutnya

November Konferensi PWI Sumut, Ketua Panitia Konferensi Ditetapkan, H Farianda : Peserta Konferensi Harus Siap Kalah

BacaJuga

Log Zhelebour!!, Dibalik Terciptanya Para Rocker Hebat

editor
8 Juli 2026

...

Pembangunan Bukan Sekadar Angka, Oleh Inggrita Gusti Sari Nasution

editor
6 Juni 2026

...

LAPK: Pemadaman Berulang, Komitmen PLN Dipertanyakan

editor
6 Juni 2026

...

MEMBUKA PINTU DARURAT, Oleh : Dr. Ir. Masri Sitanggang

editor
30 Mei 2026

...

Survei Nasional LSI Denny JA, Mayoritas Publik Menolak Pilkada DPRD, – Rekomendasi Jalan Tengah

editor
8 Januari 2026

...

Menyimak Draft Revisi PD/PRT PWI, Oleh : Marah Sakti Siregar

editor
8 Januari 2026

...

Populer

  • Akhirnya Ir Malik Assalih Harahap Terpilih Aklamasi Ketum DPP IKA SMAN-7 Medan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menteri Kehutanan RI 2004-2009 MS Kaban Reuni Akbar SMAN-7 Medan, Bangun Kepedulian Almamater Terhadap Lingkungan dan Sekolah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rencana Kongres- IV di Hotel Madani Medan, Malik Harahap Calon Tunggal Caketum IKA-SMAN-7 Medan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • UMA Meriahkan PRSU Ke-50, Promosikan Kampus dan Buka Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Setelah Terpilih secara Aklamasi Ketum IKA SMAN-7 Medan, Ini kata Malik Harahap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKSS Konsisten Penuhi Hak Normatif Pekerja Sesuai Regulasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Alumni Akan Hadiri Kongres IV dan Reuni Akbar, IKA SMAN 7 Medan Harapkan Kegiatan Dibuka Gubsu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Delapan Spesialis Neurologi Kembali Dilantik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
MetroDeli Daily

© 2025 MetroDeli Daily - Cerdas, Independen & Faktual.

Navigate Site

  • Home
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalis
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • games and Gadget
  • Kuliner kita
  • medsos
  • metro Internasional
  • metro Medan
  • metroselebritis
  • metro Sumut
  • Pariwisata

Follow Us

Tidak ditemukan.
Tampilkan seluruhnya.
  • Home
  • Breaking News
  • Ekonomi
  • Entertainmen
  • games and Gadget
  • Hukum dan Kriminal
  • Kuliner kita
  • Lifestyle
  • medsos
  • metro Internasional
  • metro Medan
  • metro Sumut
  • metroselebritis
  • MitraKita
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pariwisata
  • Peristiwa
  • Pojok Online
  • Politik
  • Religi
  • Indeks
  • Kode Etik Jurnalis
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2025 MetroDeli Daily - Cerdas, Independen & Faktual.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
[wpcode id="69428"]