Medan-metrodeli
Pascaterjadinya dugaan keracunan makanan terhadap 353 siswa di lima sekolah di Karo, Kamis , 13 Agustus 2026 lalu, hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Provinsi Sumut (Labkesda) Provinsi menemukan adanya bakteri dalam sampel makanan dari dapat dan sekolah.
Demikian Kepala KPPG Medan Donal Simanjuntak dalam Rapat Koordinasi Pengawasan (Rakorwas) Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Aula Raja Inal Siregar, Rabu, 19 Agustus 2026.
Dikatakannya, dalam pemeriksaan laboratorium provinsi terhadap sampel dilakukan dari aspek kimia dan mikrobiologi.
“Untuk pemeriksaan kimia, hasil pemeriksaan menunjukkan negatif. Sementara itu, pada pemeriksaan bakteri ditemukan dua sampel yang menunjukkan adanya bakteri yakni sampel dari dapur dan sekolah,” ungkapnya sembari menyampaikan biaya penanganan korban ditanggung Badan Gizi Nasional (BGN), sedangkan rujukan ke RS Haji menggunakan skema Universal Health Coverage (UHC).
Hal senada juga disampaikan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara melalui Andi Kusmawan menjelaskan pemeriksaan laboratorium dilakukan terhadap dua aspek yakni kimia dan mikrobiologi.
Pada pemeriksaan kimia, sampel yang diperiksa antara lain ikan dencis botan, tahu goreng saus, sayur kol dan wortel, serta melon.
Hasil pemeriksaan menunjukkan negatif terhadap parameter formalin, boraks, arsen, sianida, dan nitrit.
Untuk pemeriksaan mikrobiologi yang dilakukan pada 16 Agustus 2026 dengan menggunakan sampel makanan sisa dan muntahan, ditemukan beberapa hasil positif.
“Pada sampel nasi putih ditemukan bakteri Bacillus cereus, sementara pada ikan dencis ditemukan Staphylococcus aureus. Sedangkan sampel buah melon ditemukan E. coli, sedangkan sampel muntahan menunjukkan adanya Staphylococcus aureus,” paparnya seraya mengutarakan dari pemeriksaan pada sampel lainnya tidak ditemukan penyebab keracunan makanan.
Dalam pertemuan itu, Ombudsman RI Fikri Yasin dan Syafrida Rachmawati Rasahan didampingi Kepala Perwakilan Sumut Herdensi Adnin menilai kejadian gangguan kesehatan dalam pelaksanaan Program MBG perlu menjadi perhatian serius karena berpotensi kembali terjadi apabila pola kerja dan tata kelola tidak segera diperbaiki.
Berdasarkan data peristiwa yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, kejadian serupa telah terjadi satu kali pada 2025 dan empat kali pada 2026, dengan jumlah korban secara keseluruhan mencapai kurang lebih 800 orang.
Sebelumnya, dampak peristiwa keracunan makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lokasi diberikan sanksi penutupan.
Gubsu M Bobby Afif Nasution kepada wartawan di Medan, Jumat14 Agustus 2026 mengatakan kejadian ratusan siswa yang diduga keracunan merupakan kesalahan fatal.
Dijelaskan Bobby Nasution, berdasarkan data terbaru, jumlah total siswa yang diduga keracunan MBG sebanyak 353 siswa. Satu di antaranya dirawat di ruang ICU rumah sakit di Medan.
Bobby Nasution menjelaskan, saat ini SPPG Sumut tersebut sudah diberi sanksi suspend ditutup sementara.
“Hanya ada satu SPPG yang ditutup sementara. Karena siswa yang diduga keracunan ini, makan MBG di SPPG yang sama. Ya ini kejadian fatal yang terdampak pada anak anak kita. Ada353 siswa yang terpapar. Reaksinya mungkin ada yang langsung atau saat jam belajar sampai tadi malam bertambah (jumlah siswanya). Namun ada satu yang dirujuk ke Medan dan masuk ICU tapi, saat ini kondisinya sudah membaik,” jelasnya.
Dikatakannya, saat ini untuk sampel makanan yang diduga membuat siswa keracunan sudah dibawa dan sedang diuji di Laboratorium Dinkes Sumut.
“Harapan kita tentu kejadian seperti ini bisa jadi pelajaran dan saya rasa Kepala BGN suda secara tegas memberikan sanksi,” ucap Gubsu.
Sebelumnya, ratusan siswa dari 5 sekolah di Kabupaten Karo diduga terkena keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG), Kamis 13 Agustus 2026.
Lima sekolah itu terdiri dari 3 SMA Negeri, dan 2 SMP Swasta. Untuk total siswa SMA yang diduga terkena racun MBG berjumlah 265 Siswa.
Adapun siswa yang diduga keracunan MBG dari SMA Negeri 1 Karo, SMK Swasta Bersama dan SMA Swasta Bersama. Sementara Untuk SMP nya terdiri dari SMP Negeri 3 Kaban Jahe dan SMP Swasta Bersama.
kejadian siswa keracunan itu dimulai pukul 13.00 WIB. Setelah mereka menyantap MBG.
Berdasarkan informasi yang dihimpun hingga pukul 16.59WIB, proses evakuasi para siswa masih terus berlangsung. Mereka dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Adapun sebaran lokasi penanganan siswa antara lain Puskesmas Berastagi, RS Amanda, RS Efarina Etaham Berastagi, Klinik Yoreskita, RSUD Kabanjahe.
Sejumlah siswa dilaporkan mengalami sejumlah gejala, di antaranya diawali rasa gatal-gatal pada bagian mulut, kemudian muncul bentol-bentol pada tubuh. Selain itu, siswa juga mengeluhkan rasa panas pada bagian perut dan dada, serta mengalami muntah-muntah.
Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui secara pasti penyebab kejadian tersebut. Petugas dan pihak terkait masih melakukan penanganan terhadap para siswa serta pendataan jumlah korban.
Dalam proses penanganan, terlihat Bupati Karo Antonius Ginting bersama Kapolres Karo AKBP Pebriandi Haloho terjun langsung ke lokasi evakuasi siswa di RS Efarina Etaham Berastagi untuk memantau kondisi para siswa dan proses penanganan.
Bupati Karo Antonius Ginting menyampaikan bahwa, siswa yang keracunan MBG sudah mendapat penanganan medis semuanya. “ Hasil pemeriksaan kami dari 255 siswa dan siswi keracunan makan bergizi gratis, kondisi sudah membaik pasca ditangani medis, itu dapat dipastikan setelah kita lihat satu persatu para siswa yang keracunan”.
Besok kita akan melakukan apel dan koordinasi terkait kasus ini dan memastikan pristiwa seperti ini tidak terulang lagi. (alhafiz-editor01)

















